Dosen UIM di Makassar Tersulut Emosi Saat Ludahi Kasir Swalayan
Nah, kejadian yang bikin heboh di Makassar beberapa hari lalu adalah perdebatan antara seorang dosen dan kasir swalayan. Tak hanya soal antrean, tapi juga kejadian emosi yang berujung pada aksi spontan. Saya bayangkan, betapa kagetnya pelanggan lain saat tiba-tiba terdengar suara lantang dari meja kasir. Apakah ini benar-benar kesalahan dosen? Atau justru ada ketidakadilan di baliknya?
Mengapa Antrean Jadi Pemicu Konflik?
Kisah ini dimulai saat Amal Said, dosen di Universitas Islam Makassar (UIM), mengambil posisi antrean yang sebenarnya dianggapnya lebih
“masuk akal”
. Menurut dia, kejadian terjadi di sebuah swalayan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, pada Rabu (24/12/2025). Saat itu, ada lima kasir, tapi antrean di satu meja kosong.
“Saya kan dituduh menyerobot antrean. Sebenarnya, saya itu pindah dari antrean yang tujuh orang di situ ke antrean yang sudah kosong. Tidak benar itu saya menyerobot,”
jelas Amal Said.
“Saya mau antre bagaimana? Kan kosong ini (meja kasir),”
Amal mengaku emosi karena merasa diperlakukan tidak sopan. Tapi, bukan hanya karena perpindahan antrean. Dia juga merasa dipersulit oleh staf swalayan yang terus menegur.
“Tapi, itu yang mestinya kasih masuk barang, itu yang bilangi, ‘Kenapa kita tidak ikut antrean?’. Saya bilang, ‘Saya mau antre bagaimana?’. Kan kosong ini (meja kasir),”
tegasnya. Ternyata, perpindahan antrean ini justru memicu perdebatan yang memanas.
Kasir Tegur, Dosen Balas Dengan Ludah
Kasir berinisial N mengakui bahwa saat itu dia sedang melayani pelanggan lain. Tiba-tiba, Amal menerobos dua orang konsumen yang antre di barisan depan.
“Langsung saya tanya bilang, ‘Maaf, Pak. Ada antrean dari belakang, antre dari belakang ki dulu mengantre’. Dia langsung marah sambil na lempar itu keranjangnya. Dia bilang, ‘transaksikan saja anu-ku (belanjaanku)’,”
kata N.
“Di situ belum selesai (saya) bicara, langsung diludahi,”
Reaksi Amal jadi lebih keras. Ia tak hanya menegur, tapi juga mengambil tindakan langsung.
“Saya ini orang tua, sudah putih rambutku,”
ujarnya, sambil menunjukkan rasa kecewa. Kekerasan tersebut bisa jadi simbol dari ketegangan antara generasi, atau mungkin juga kelelahan yang terlalu banyak. Tapi, bagaimana mungkin konflik kecil ini bisa viral?
Konteks yang Membuat Antrean Jadi Simbol
Kasus ini viral di media sosial setelah diunggah video kejadian antrean dan ludah yang jelas. Memang, dalam kehidupan sehari-hari, antrean adalah hal yang wajar. Tapi ketika salah satu pihak merasa diperlakukan tidak adil, maka itu bisa jadi ledakan emosi. Kecelakaan kecil di swalayan ini justru memicu perdebatan tentang etika antrean dan sikap kesabaran.
“Awalnya itu sementara transaksi (layani konsumen). Terus kulihat memang itu di depan itu bapak kayak gelisah mau masuk ini di antrean,”
Nah, yang menarik adalah bagaimana satu aksi bisa mengubah suasana. Apakah antrean yang kosong jadi alasan untuk
“mendahului”
prosedur? Atau justru ketidakpuasan atas pelayanan kasir yang dianggap lambat? Amal Said menegaskan bahwa tindakannya manusiawi.
“Itu (sikap N) yang kasih emosi saya. Mulai di dadaku itu agak lain-lain (emosi),”
ujarnya. Tapi, mungkin orang lain akan melihatnya berbeda.
Kasus Kekeluargaan yang Harus Dipecahkan
Saat ini, Amal Said dan kasir N masih menunggu kesepakatan kekeluargaan.
“Harap kasus damai secara kekeluargaan,”
harap Amal. Tapi, apakah ini cukup? Dalam kehidupan sosial, konflik sering kali berawal dari kesalahpahaman. Sementara itu, kisah ini justru jadi cerminan tentang bagaimana kecilnya kejadian bisa memicu perdebatan yang besar.
“Dosen tersebut malah balik emosi dan menuding kasir tidak melakukan pelayanan dengan baik. Kasir pun memilih mengalah karena tidak ingin ada keributan, namun lagi-lagi dosen itu berlaku kasar,”
Kesimpulannya, ini bukan hanya soal antrean, tapi juga soal empati. Mungkin kita semua pernah merasa terganggu oleh situasi seperti ini. Tapi, apakah kita bisa menenangkan diri sebelum mengambil tindakan ekstrem? Jika Amal Said dan kasir N bisa sepakat, maka kasus ini bisa jadi pelajaran tentang bagaimana emosi bisa mengubah kehidupan sehari-hari. Apakah kamu juga pernah merasa emosi karena antrean yang
“tidak adil”
?


