Kapal Wisata Tenggelam: Kekacauan di Perairan Labuan Bajo yang Mengubah Hari Sabtu
Dalam semalam, sebuah kapal wisata berubah menjadi cerita tragis yang mengguncang kota pesisir Labuan Bajo. KM Putri Sakinah, kapal pinisi yang mengangkut rombongan wisatawan, tenggelam di Perairan Pulau Padar pada Jumat (26/12/2025) malam. Tapi yang membuat situasi lebih menegangkan adalah bahwa kapal ini membawa Martin Carreras Fernando, pelatih Tim B Wanita Los Che klub LaLiga Valencia, beserta tiga anaknya. Siapa sangka, kejadian ini tak hanya menjadi kisah kehilangan kapal, tapi juga kisah kehilangan keluarga yang sedang dalam perjalanan liburan? Yang menarik, hingga hari kedua pencarian, tim SAR gabungan masih belum menemukan semua korban, meski sudah menemukan serpihan badan kapal sejauh 5 *nautical mile* dari lokasi kejadian.
Hari Kedua Pencarian: Serpihan yang Menjadi Petunjuk
Pencarian hari kedua berlangsung dengan semangat yang tak pernah pudar. Tim SAR gabungan, yang terdiri dari RIB Pos SAR Manggarai Barat, Sea Rider KSOP Labuan Bajo, dan beberapa unit lainnya, menyisir perairan utara Pulau Padar sejak pagi hingga pukul 18.00 Wita.
“Pencarian terhadap empat korban yang merupakan warga negara asing (WNA) asal Spanyol masih terus dilakukan,”
kata Kepala Kantor Basarnas Maumere Fathur Rahman. Kata-kata itu seolah mengingatkan kita bahwa keempat WNA yang hilang belum ditemukan, sementara tujuh korban lain sudah dievakuasi. Tapi jangan remehkan kecilnya serpihan yang ditemukan—benda-benda itu bisa jadi petunjuk besar bagi perjalanan penyelaman yang masih berlangsung.
“Pencarian hari ketiga terhadap empat orang WNA Spanyol ini akan dilanjutkan pada esok hari,”
katanya.
Kata-kata Fathur Rahman memunculkan pertanyaan retoris: *Mengapa pencarian masih berlangsung meski hari kedua sudah memberi petunjuk?* Faktanya, gelombang tinggi, arus kuat, dan hujan lebat menjadi penghalang besar. Tingginya gelombang mencapai 0,25-1,5 meter, sementara arus menggerus kekuatan tim SAR. Cuaca buruk membuat jarak pandang berkurang, seolah mempermainkan mata pencari korban. Namun, kekacauan alam ini justru memperkuat semangat tim SAR yang tak menyerah. Mereka terus menyisir, meski tangan terasa basah dan langit gelap.
Keluarga yang Terpisah: Teka-Teki Identitas dan Harapan
Yang menarik, empat korban yang belum ditemukan ternyata satu keluarga. Mereka terdiri dari Martin Carreras Fernando, pelatih Valencia, dan tiga anaknya. Menurut Fathur Rahman, tim SAR gabungan telah melakukan penelusuran dan pencocokan data manifes, serta memperbaiki informasi terkait keempat korban. Dari informasi terbaru, dua WNA yang sebelumnya dinyatakan selamat justru istri dari korban dan seorang anak. Sementara itu, empat korban selamat lainnya termasuk tiga ABK dan seorang pemandu wisata. Jadi, apa yang terjadi pada Martin dan anak-anaknya? Apakah mereka terjebak di sisa-sisa kapal yang masih menyembunyikan misteri?
Implikasi dari Kebocoran: Kecelakaan yang Menginspirasi Kewaspadaan
Kecelakaan KM Putri Sakinah tak hanya menjadi kisah perahu yang tenggelam, tapi juga pengingat keras tentang pentingnya keselamatan di laut. Dengan data korban yang terus terungkap, masyarakat mulai memperhatikan keberadaan kapal-kapal pinisi yang sering dianggap aman.
“Namun tidak menurunkan semangat tim SAR gabungan dalam proses pencarian,”
ungkap Fathur Rahman. Kalimat ini seolah menggambarkan betapa seriusnya tugas para penyelamat. Mereka terus berkarya, meski jalan masih panjang. Kita pun harus bersiap menghadapi kejadian serupa di masa depan—mengapa? Karena tak ada yang bisa memprediksi gelombang tiba-tiba atau kekacauan alam yang tak terduga.
Yang menjadi takeaway dari kisah ini adalah bahwa kecelakaan di laut bukan hanya soal kebetulan. Kombinasi cuaca, teknik pengemudi, dan persiapan kapal bisa menjadi faktor penentu. KM Putri Sakinah membawa pelatih Valencia dan anak-anaknya, tapi sekarang mereka adalah bagian dari cerita tragis yang memaksa kita merenung. Apakah kamu pernah bayangkan, dalam satu hari, kehidupan berubah menjadi sejarah kehilangan? Itulah yang terjadi di Labuan Bajo, mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan laut adalah permainan dengan waktu dan kesempatan.


