Kisah Kapal Wisata yang Tenggelam: Keluarga Spanyol dan Kegigihan Tim SAR
Nah, pagi hari di Labuan Bajo, NTT, seolah-olah dunia berhenti sejenak. Dalam keheningan ombak yang bergeram, tim SAR gabungan mulai menyisir perairan Pulau Padar, mencari jejak kecil dari kapal pinisi KM Putri Sakinah yang tenggelam. Tiga hari sebelumnya, kapal itu membawa pulang empat korban yang menjadi sorotan: Martin Carreras Fernando, pelatih Tim B Wanita Los Che klub LaLiga Valencia, dan tiga anaknya. Siapa sangka, dalam perjalanan singkat mereka, keluarga ini menjadi korban dari kejadian tragis yang tak terduga.
Kapal yang Tenggelam: Momen Kehilangan yang Tak Terduga
Tanggal 26 Desember 2025, malam hari, KM Putri Sakinah menghilang dari pandangan mata. Kapal yang sebelumnya menjadi sarana liburan para wisatawan ini, kini berubah menjadi misteri yang menimbulkan rasa penasaran. Dalam pencarian hari kedua, tim SAR berhasil menemukan serpihan badan kapal sejauh 5 mil laut dari lokasi kejadian. Ini adalah langkah pertama menuju kebenaran, tetapi jalan masih panjang.
“Kami masih mencari empat korban yang merupakan warga negara asing asal Spanyol,”
kata Fathur Rahman, Kepala Kantor Basarnas Maumere, seperti dilansir Antara.
“Pencarian hari ketiga terhadap empat orang WNA Spanyol ini akan dilanjutkan pada esok hari,”
ungkap Fathur Rahman.
Analisis dari kutipan itu menggambarkan semangat tim SAR yang tak goyah meski kondisi cuaca semakin menantang. Dengan gelombang mencapai 0,25-1,5 meter, arus deras, dan hujan lebat yang mengurangi jarak pandang, keberhasilan mereka mencari korban menjadi seperti pencarian berlian di tengah badai. Namun, setiap serpihan yang ditemukan memberikan harapan baru.
Keluarga yang Hilang: Kisah Tiga Anak dan Seorang Ayah
Ternyata, keempat korban yang ditemukan bukan hanya turis biasa, tetapi juga merupakan satu keluarga. Dalam penyelidikan lebih lanjut, tim SAR menemukan bahwa Martin Carreras Fernando, pelatih Valencia, adalah ayah dari tiga anaknya yang hilang.
“Keempat korban hilang merupakan satu keluarga yang terdiri dari ayah, satu anak, dan dua anak laki-laki,”
jelas Fathur Rahman. Informasi ini menambah kedalaman kisah yang menyentuh hati.
Sementara itu, dua korban yang sebelumnya dianggap selamat ternyata istri dari Martin dan salah satu anaknya. Ini membuat kebingungan di antara tim SAR dan keluarga, karena identitas korban terus diperbaiki. Dari 11 korban, 7 telah ditemukan, tapi empat orang masih mengambang di tengah lautan.
“Kami masih mencari tiga anak Martin, seorang istri, dan seorang anak lainnya,”
tambah Fathur Rahman. Dengan setiap serpihan yang ditemukan, rasa penasaran semakin memuncak.
Konteks Cuaca dan Peringatan BMKG: Badai yang Mengintai
Bukan hanya tim SAR yang khawatir, BMKG pun memberikan peringatan tentang gelombang tinggi yang bisa berdampak serius.
“Kami memantau bibit siklon 96S yang memengaruhi perairan Labuan Bajo,”
kata BMKG. Gelombang hingga 1,5 meter, ditambah arus deras, menjadikan perairan Pulau Padar sebagai medan pencarian yang ekstrem. Namun, tim SAR tetap gigih, menelusuri setiap sudut lautan dengan harapan bisa menemukan korban sebelum waktu terus berlalu.
Yang menarik, keberhasilan pencarian sejauh ini juga mengungkap detail mengejutkan tentang korban. Dari 11 orang yang hilang, 4 adalah wisatawan asing, sementara 7 lainnya adalah anak buah kapal (ABK) dan pemandu wisata. Ini memperlihatkan bahwa tragedi ini bukan hanya tentang keluarga Martin, tetapi juga para pekerja yang membawa mereka ke destinasi indah NTT. Dengan setiap jejak yang ditemukan, kisah ini semakin menggambarkan keberanian dan ketekunan manusia di tengah bencana alam.



